Posted by Admin DAC

REFLEKSI KEMERDEKAAN: MENGHARGAI PERBEDAAN DENGAN MEMBERIKAN KEBEBASAN DAN SALING BERSINERGI

img

Oleh : Vincentius Aditya 

Dirgahayu Indonesiaku yang ke 72 tahun! Merdeka!

Sang Saka Merah putih berkibar dimana-mana, di setiap instansi dan rumah setiap warga dengan gagahnya Sang Saka berkibar. Sebagian dari kita mengikuti momentum upacara kemerdekaan. Sebagian dari kita bersama keluarga sibuk bertamasya. Sebagian dari kita sibuk berpesta. Sebagian dari kita sibuk berlomba. Namun, sudahkah kita merdeka?

Barangkali kata merdeka yang sering kita dengar dan sering kita baca melalui media sosial menjadi hal yang biasa di setiap bulan Agustus. Bahkan banyak kita temui promo-promo menarik dari online stores yang memberikan potongan harga dengan mencatumkan kata “merdeka” sebagai penarik minat pembelinya. Istilah kata merdeka seakan menjadi sebuah tagline atau mungkin menjadi identik dengan bulan Agustus.

Tepat di tahun 2019 ini bangsa Indonesia telah memasuki usianya yang ke 72 tahun. Tepat 72 tahun pula bangsa Indonesia telah melepaskan diri dari belenggu rantai penjajahan bangsa kolonial. Kemerdekaan yang diproklamirkan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945 seakan telah mewujudkan cita-cita kemerdekaan pendahulu kita untuk merdeka dari segala bentuk penjajahan dan penindasan. Tentu tidaklah mudah bagi pendahulu kita dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Dengan pengorbanan tenaga, pikiran, jiwa dan raga para perintis republik ini meraihnya.   

 

Makna Kemerdekaan

Ketika mendengar kata kemerdekaan apa yang terlintas di benak kita? Apakah sebuah idiom tentang kebebasan tanpa ada hal atau sesuatu yang mengikat? Apakah suatu kondisi atau keadaan dimana individu bebas untuk menentukan tindakan dengan pilihan bebasnya? Atau sebuah kata yang mengisyaratkan akan sebuah perlawanan?

Ada ungkapan dari bahasa Latin Per Aspera Ad Astra dengan arti harafiah melalui jerih payah menuju bintang. Jika diterjemahkan seseorang bisa mencapai bintang melalui pengorbanan, rintangan, dan kesulitan. Jika ungkapan ini untuk merefleksikan hari kemerdekaan, dapat diinterpretasikan, bangsa Indonesia bisa mencapai bintang asal mau untuk rela berkorban dan berani menghadapi tantangan. Artinya, kemerdekaan tidak sebatas pada sebuah keadaan bebas yang didapat tanpa sebuah usaha.

Banyak makna kemerdekaan, bagi saya kemerdekaan bukan akhir dari sebuah perjuangan melainkan merupakan awal dari sebuah perjuangan. Mengapa menjadi awal dari sebuah perjuangan? Bukankah dengan meraih kemerdekaan artinya sudah mencapai cita-cita yang diwujudkan? Lebih dari itu kemerdekaan dapat direfleksikan dengan mempertahankan dan meningkatkan kondisi yang telah “merdeka” dan mengisi kemerdekaan tersebut dengan menjadi lebih baik. Hal ini akan terwujud jika setiap pribadi membuang ego masing-masing. 

 

Meningkatkan Kualitas Diri Dengan Merawat Nasionalisme Di Era Revolusi Industry 4.0 dan Society 5.0

Secara nasional, HUT RI yang ke 74 mengangkat tema tentang Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Secara resmi tema tersebut terdapat pada surat                                                           No. B-779/M.Sesneg/SET/TU.00.04/07/2019, tentang Penyampaian Tema dan Logo Peringatan Hari Kemerdekaan Tahun 2019 yang ditandatangani pada 23 Juli 2019 oleh Presiden Joko Widodo. Pada logo tertulis “74 th Menuju Indonesia Unggul”. Gambar pertama atau original menampilkan tulisan '74 th Menuju Indonesia Unggul' berwarna merah dan berlatar putih. Gambar kedua menampilkan kebalikannya yakni tulisan '74 th Menuju Indonesia Unggul' dengan warna putih berlatar merah.  

Tema tentang Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul menjadi sangat relevan dewasa ini. Pembangunan SDM menjadi fokus dalam program pemerintahan bangsa Indonesia pada masa pemerintahan periode ini. Tak dapat dipungkiri kemajuan teknologi yang semakin cepat dan canggih, cepat atau lambat akan menjadi “penjajah” jika SDM tidak dipersiapkan dengan program yang berkualitas. Dalam program pembangunan manusia, pemerintah menyiapkan lima aspek: 1) Pemajuan kebudayaan dan prestasi bangsa, 2) Peningkatan stabilitas politik dan keamanan, penegakan hukum, dan tata kelola pemerintahan, 3) Penguatan Indonesia sentris, 4) Peningkatan kesejahteraan dan kebijaka afirmatif, dan 5) Pembangunan ekonomi dan peningkatan daya saing. Maka menjadi sebuah tuntutan bagi bangsa ini untuk menyiapkan SDM yang memiliki kualitas unggul yang siap dalam menghadapi persaingan di era Industri 4.0.

 Dampak dari revolusi industry 4.0 dan society 5.0 adalah dunia yang semakin terkoneksi sehinga batas-batas negara seolah-olah hilang. Hal ini tentu mengancam berbagai aspek. Salah satunya adalah moral bangsa Indonesia, budaya Indonesia, dan jati diri bangsa yang tergores oleh masuknya budaya-budaya asing yang semakin sulit disaring. Selain itu, dampak dari terjadinya revolusi industry 4.0 dan society 5.0 adalah semakin banyaknya robot-robot cerdas yang dapat menggantikan posisi dan peran manusia. Lantas, apa yang perlu kita siapkan?

Salah satu yang perlu kita siapkan di era revolusi industry 4.0 dan society 5.0 adalah dengan meningkatkan kualitas diri dengan merawat nasionalisme. Secara sederhana, nasionalisme dapat diartikan sebagai kesadaran akan rasa kebangsaan yang dirasakan oleh masyarakat sebagai rasa memiliki suatu bangsa yang terwujud dalam perilaku. Sikap nasionalisme yang ditampilkan adalah dengan tidak mudah terhasut berita hoax yang tersebar di media sosial, tidak me-repost kabar yang belum pasti kebenarannya, terus mengasah kemampuan diri tanpa membatasi diri dengan pengetahuan baru, dan mau membagikan kemampuan diri terhadap orang-orang di sekitar kita.

 

Menghargai Perbedaan Dengan Memberikan Kebebasan dan Saling Bersinergi

Menurut sensus Badan Pusat Statistik tahun 2010, Indonesia memiliki lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa, lebih tepatnya terdapat 1.340 suku bangsa di Tanah Air. Jumlah suku di Indonesia dapat dikatakan bangsa Indonesia memiliki kekayaan budaya dan potensi yang besar. Namun, jika masing-masing suku bangsa tidak memiliki rasa toleransi dan menghargai perbedaan maka akan menjadi sebuah ancaman besar bagi bangsa Indonesia.

  Dharma Grup sebagai bagian dari Triputra Group merupakan potret mini dari keberagaman bangsa Indonesia. Karyawan yang datang dari berbagai latar belakang Suku, Agama, Ras, dan Budaya berkumpul menjadi satu dalam keluarga besar Dharma Group. Mereka datang dan disatukan dalam Dharma Grup dengan tujuan untuk berkarya dan berkontribusi dalam memajukan perekonomian bangsa. Bahkan pendiri Triputra Grup menyebutnya Triputra sebagai tempat yang memberikan ruang untuk tumbuh. Bahkan kebebasan dan perbedaan yang terdapat pada karyawannya pun diterima sebagai hal yang positif untuk kemajuan bersama. Berikut kutipan speech dari bapak T.P Rachmat dalam sambutannya di usia Triputra yang ke-20,

Tempat itu dikenal sebagai sebagai tempat yang memberikan ruang untuk tumbuh. Memberikan kesempatan dan kebebasan yang bertanggung jawab kepada siapapun yang ingin berkarya. Di tempat itu perbedaan diterima, ide didukung, kesalahan diterima sebagai pembelajaran, perubahan zaman dan kemajuan dijadikan kawan untuk menjadi lebih hebat. Tempat yang menghargai, dan bahkan merayakan perbedaan. Tempat dimana tanah yang subur bertemu dengan bibit-bibit yang baik. Tempat yang akan memberikan makin banyak manfaat bagi banyak pihak (T.P Rachmat, 2018).

 

Dari ungkapan yang disampaikan pendiri Triputra Group, bapak T.P Rachmat. Pemebelajaran yang dapat dipetik adalah salah satu bentuk menghargai perbedaan adalah dengan menunjukkan sikap memberikan kebebasan bagi orang lain dan saling bersinergi untuk mencapai tujuan bersama. Ketika sekelompok orang yang terdiri dari bermacam-macam latar belakang dapat saling bersinergi dan saling memberikan kebebasan maka akan lebih mudah fokus untuk melihat tujuan yang lebih besar dan berfokus dalam mencapainya.

 

 

Referensi:

  1. https://www.setneg.go.id/
  2. https://www.indonesia.go.id/profil/suku-bangsa
  3. sambutan T.P Rachmat di Ulang Tahun Triputra Group ke-20 Tahun 2018