Posted by Admin DAC

Understanding The Millenials

img

Mareda Fenty Nugraheni Wijayati ( DCI )

 

Dharma Group sebagai perusahaan manufacture yang terus berkembang secara bisnisnya, tentu saja mengalami perubahan demi perubahan ke arah yang lebih baik, dan tentunya menantang. Memasuki dunia industri 4.0, membuat Dharma Group mulai mengencangkan ikat pinggang dengan membenahi di berbagai sisi company, seperti melakukan upgrade mesin dan robot yang dimiliki, mengubah pekerjaan yang sifatnya manual menjadi memiliki sistem yang terintegrasi otomatis, dan yang paling utama terus melakukan pengembangan people yang dimiliki. Sebut saja generasi millennials, adalah generasi yang terus bergerak maju, dinamis, kreatif, dan potensial bakat serta kemampuan yang dimiliki. Generasi ini disebut sebagai generasi penerus yang cukup menentukan masa depan sebuah company.

Millenials merupakan generasi yang lahir dari tahun 1980 hingga 2000 (Meier, 2010). Generasi ini tumbuh di tengah kemajuan teknologi, sehingga tidak diragukan lagi bahwa mereka memiliki kemampuan tinggi mengelola teknologi dan mengintegrasikannya dalam kehidupan sehari-hari untuk mencapai tujuan/kebutuhan mereka. Generasi millennials atau yang akrab disebut dengan Gen-Y memiliki perbedaan karakter dengan Gen-X. Gen Y memiliki standar yang lebih tinggi termasuk kepuasan terhadap perusahaannya dibanding dengan Gen-X. Mereka memiliki harga diri yang tinggi, menginginkan pekerjaan yang meaningful to their life, antusias, need of appreciation yang tinggi, serta senang menerima feedback dari atasan mereka (Oktariani, Aida, dan Dadang, 2017).

Atas dasar kebutuhan dari Gen-Y inilah, maka Dharma Group bersama subco masing-masing secara serentak melaksanakan forum sharing discussion bersama jajaran top management. Kegiatan ini di lakukan di bulan Juli pada subco masing-masing, dan akan dilaksanakan secara bersama (Dharma Group) pada bulan Agustus 2019. Inti topik dari kegiatan ini adalah sharing. Management mewadahi kebutuhan dari millenials untuk dapat bertanya dan mengungkapkan keinginannya, top management menampung segala pertanyaan dan memberikan feedback. Menariknya dalam acara ini adalah mayoritass karyawan Gen-Y aktif bertanya dan memberikan tanggapan. Beberapa ada yang menceritakan kondisi bekerjanya, ada yang menyampaikan cita-cita dan harapan pada perusahaan.  Menariknya lagi Gen-Y menyampaikan keinginan untuk menjadi seorang pemimpin di tempat bekerjanya sekarang atau mereka sebenarnya memiliki tujuan untuk mengalami perkembangan karir yang baik.

Gen-Y ini memang unik. Jika mereka telah mendapat tempat yang mana mampu mewadahi potensi dan aspirasinya maka ia tidak akan segan-segan memberikan waktu dan energinya untuk kepentingan perusahaan. Sebaliknya jika mereka tidak mendapat tempat tersebut, maka ia akan segera mencari tempat lain. Kenyataan inilah yang sering dinilai oleh Gen-X bahwa Gen-Y tidak memiliki loyalitas tinggi pada organisasi, seperti era Gen-X dahulu. Seorang peserta dalam forum secara berani menyampaikan pendapat bagaimana menghadapi atasan atau user lain yang bisa dibilang sulit kepada top management. Keberanian ini sebenarnya dapat diartikan bahwa millennials mendambakan mentor yang dapat membimbingnya dalam mencapai target serta cita-citanya, baik di pekerjaan yang sifatnya technical atau aspek lain yang berkaitan. Hal ini serupa dengan hasil penelitian dari PWC di tahun 2010 yang menyebutkan bahwa millennial akan lebih engage terhadap organisasi jika bekerja dengan strong coaches and mentors. Selain itu, millennials akan lebih engage jika mendapat program development atau training yang jelas, bekerja dengan inspiring partner or leader project, dan mendapat kesempatan belajar apa dan di mana saja. Jika disimpulkan bahwa millennials sebenarnya menginginkan seorang role model.

Rasanya beberapa fakta di atas mampu menunjukkan bahwa pentingnya memahami karyawan millennial yang saat ini sudah mulai menduduki posisi-posisi strategis di Dharma Group. Kegiatan sharing session yang bertajuk Gen-Y Fun Forum ini menjadi pintu pertama bagaimana management mau terbuka dan mendengar need dari sudut pandang Gen-Y. Dengan demikian jarak atau gap diantara Gen-Y dan managemen (mayoritas adalah Gen-X), lambat laun mulai terkikis, sehingga  mampu meningkatkan kekompakan diantara kedua generasi. Kegiatan ini bertujuan pula sebagai wadah bagi Gen-X untuk menengarkan ide-ide dari karyawan Gen-Y. Karena kita ketahui bahwa Gen-Y memiliki energi dan ide kreativitas yang besar, perlu diberikan tempat untuk kemajuan mereka dan perusahaan.

Harapan ke depannya dimulai dari hal yang sudah baik ini dapat diteruskan dengan program pendukung serta komitmen dari seluruh pihak yang berkaitan. Melengkpi kedua harapan tersebut, alangkah baiknya jika baik Gen-X maupun Gen-Y menumbuhkan kerelaan untuk saling memahami, Gen-Y memahami gaya komunikasi dan kerja Gen-X begitu pula Gen-X mampu memahami gaya komunikasi dan style Gen-Y. Karena segala sesuatu tindakan baik berawal dari pengetahuan yang memadai, bagaimana dapat mendapat pengetahuan tersebut yaitu dengan mencari dan memahami.  

 

Meier, Justin. 2010. Generation Y in the workforce:manageral challenges. The Journal of Human
Resource and Adult Learning 6(1): 68–78

Oktariani, Dwi, Aida Hubeis, dan Dadang Sukandar. 2017. Kepuasan Kerja Generasi X dan Generasi Y terjadap Komitemn Kerja di Bank Mandiri Palembang. Jurnal IPB: Aplikasi Bisnis dan Manajemen, Vol. 3 No. 1