Posted by Superadmin

Mengerti Saja Tidak Cukup, Ayo Cintai Bumi dengan Aksi!

img

Oleh: Vincentius Wishnu Adhityaputra

 

Apa itu Earth Day?

        Earth Day (Hari Bumi) yang diperingati setiap tanggal 22 April menjadi sebuah budaya global bagi seluruh masyarakat dunia yang mengajak “sang penghuni bumi” kembali sadar dan melakukan tindakan nyata untuk mencintai bumi. Eart Day juga merupakan sebuah campaign untuk mengajak semua orang peduli dan menghargai terhadap lingkungan hidup.

         Munculnya Earth Day sendiri pertama kali diselenggarakan pada tanggal 22 April 1970 di Amerika Serikat, yang digagas oleh Gaylord Nelson (seorang senator dari Wisconsin yang juga pengajar lingkungan hidup). Latar belakang munculnya Earth Day, pada saat itu Gaylord Nelson memandang perlunya isu-isu lingkungan hidup untuk masuk dalam kurikulum resmi perguruan tinggi. Berbagai isu lingkungan hidup yang banyak dibahas di berbagai media sosial, salah satunya adalah isu mengenai sampah. Masalah sampah mungkin menjadi persoalan sistemik karena terkait dengan pengelolaanya. Majalah BBC menuliskan sebuah riset yang dikutip dari Jenna Jembeck dalam pertemuan American Associoation for the Advancement of Science. Hasil risetnya menyatakan bahwa terdapat sekitar 8 juta ton sampah plastik beredar di dunia setiap tahun. Lebih lanjut, studi ini menunjukkan bahwa jika sampah plastik dibiarkan maka 17,5 juta ton plastik per tahun akan memasuki laut di tahun 2025.

Bentuk Aksi Earth Day: Trash Tag Challenge

        Berbagai bentuk kegiatan dan social challenge yang dilakukan di berbagai belahan dunia untuk memperingati hari bumi. Berbagai konten di media sosial pun tak luput dari postingan-postingan positif yang memprovokasi netizen untuk melakukan social challenge. Salah satu challenge yang popular di tahun 2019 ini adalah Trash Tag Challenge. Apa itu Trash Tag Challenge?   Merupakan bentuk tantangan untuk mengajak orang-orang berani bertindak menyayangi bumi, dengan aksi nyata seperti memungut sampah di sekitar lingkungan. Di tengah maraknya social challenge yang kurang berfaedah, Trash Tag Challenge mampu menggerakkan kesadara netizen untuk berlomba-lomba melakukan aksi menyayangi bumi dengan mengunggah foto di media sosial dengan aksi pungut sampah before-after.

Dharma Group: Peringati Earth Day dengan Kegiatan Stop Using Plastic Challenges sampai Outing Ke Gunung Gede.

        Pada minggu pertama di bulan April 2019, tim culture Dharma Group all subco berkumpul untuk open discuss dan brainstorming dalam membuat sebuah aktivitas untuk memperingati Earth Day. Berbagai ide dan konsep menarik pun terkumpul dengan beragam pertimbangan. Yang akhirnya diperolehlah beberapa aktivitas yang dilaksanakan untuk memperingati earth day. Aktivitas untuk peringati earth day diantaranya adalah menerapkan hari bebas sampah plastik yang dilaksanakan pada tanggal 22 April 2019 dengan memasang spanduk dan poster di area-area strategis hingga memasang earth day campaign poster di desktop computer karyawan. Point-point aktivitas yang dilaksanakan saat itu antara lain: tidak menggunakan kantong kresek saat berbelanja, tidak menggunakan wadah dan alat makan sekali pakai serta yang terbuat dari bahan plastik, dan mengganti peralatan makan yang penggunaannya sekali pakai.

        Kemudian aktivitas yang kedua adalah aktivitas outing ke Gunung Gede yang berlokasi di wilayah Bogor, Jawa Barat. Kegiatan outing ini dilakukan pada tanggal 19-20 April 2019 dengan aktivitas membersihkan sampah dan menanam bibit pohon di area Gunung Gede. Kegiatan ini diikuti sekitar 20 peserta dari perwakilan-perwakilan setiap subco Dharma Group dan dari komunitas pecinta alam karyawan Dharma Group yaitu Dharma Green Community.

 

Merayakan Earth Day dengan Menghidupi Value Triputra DNA ‘Compassion’

       Compassion  atau  kewelasasihan  merupakan  Triputra  DNA (TDNA) yang  di dalam perilaku kuncinya terdapat  nilai yang mengajaka insan Triputra untuk peduli kepada sesama dan lingkungan dengan tindakan nyata. Compassion dalam TDNA disimbolkan dengan lambang hati yang berwarna merah. Gambar hati mewakili makna tulus, sungguh-sungguh, dan murni. Digabung dengan warna merah yang bermakna hangat dan hidup. Maka sebagai harapan untuk insan Triputra, agar menjadi sebuah landasan dalam bertindak untuk menghidupkan dan mewujudnyatakan compassion dalam kehidupan sehari-hari.

        Kemudian bagaimana agar tindakan yang kita lakukan menampilkan sebuah perilaku kunci care with truthfull act ? Dalam buku panduan Triputra DNA & Etika perilaku, secara sederhana disebutkan bahwa bentuk tindakan yang mencerminkan perilaku kunci tersebut ada dua hal. Pertama, tulus dan konsisten melakukan perbuatan baik dan yang kedua adalah proaktif dalam melestarikan lingkungan sekitar dan alam. Terkait kedua perilaku kunci ini, Triputra memiliki berbagai program bantuan untuk masyarakat, yaitu dalam bidang pendidikan dan kesehatan yang diberikan setiap tahunnya.

     Sebagai insan Triputra secara sadar value-value TDNA sudah menjadi komitmen untuk dilaksanakan dan dihidupi, secara khusus value compassion dalam konteks ini. Menjadi nilai tambah jika insan Triputra dapat ambil bagian untuk menyebarkan ‘virus’ value TDNA ke orang-orang disekelilingnya. Sudahkah kita melaksanakan dan menghidupi calue TDNA compassion saat ini? Mengerti saja tidak cukup, ayo cintai bumi dengan aksi. Selamat hari bumi!

 

Sumber : (https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/02/150213_iptek_sampah_laut)

Tagged with: